SISTEM HIDROPONIK

 



                                                   SISTEM HIDROPONIK

1.    Teknik Hidroponik System Drip


 

Drip system adalah cara bercocok tanam hidroponik menggunakan sistem irigasi tetes untuk mengalirkan nutrisi ke wilayah perakaran melalui selang irigasi dengan menggunakan dripper yang diatur waktunya dengan timer Media tanam pada drip sistem ini yaitu batu apung, zeolit, sekam bakar, dan sabut kelapa yang berfungsi sebagai tempat akar berkembang dan memperkokoh kedudukan tanaman (Tallei, 2017)

Drip system ini lebih terkenal untuk menanam sayuran dan buah-buahan  seperti terong, cabai, paprika, terong, tomat, melon, dan stroberi.  Sistem ini juga dikenal lebih hemat biaya dikarenakan pada kegiatan pemupukan yang dapat dikurangi karena hanya diberikan bersamaan dengan proses penyiraman

Untuk memulai bercocok tanam hidroponik dengan drip system ada beberapa alat yang diperlukan serta ruangan yang cukup luas seperti dripper, nipper, microtube, pompa, pipa nutrisi, polybag, wadah penampungan nutrisi, dan timer. Pada prinsipnya sistem drip ini adalah mengalirkan larutan nutrisi dalam bentuk tetesan yang berlangsung secara terus menerus serta sesuai takaran

 

 

 

 

 

 

 

2.    Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique (NFT)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Pada sistem ini larutan nutrisi secara terus menerus dialirkan mengenai akar tanaman menggunakan pipa PVC dan pompa dengan teknik sirkulasi (Swastika,  2018).  Posisi tanaman yang tumbuh pada lapisan aliran nutrisi yang tidak dalam (dangkal) dapat membuat sebagian akar terendam dan memperoleh nutrisi sehingga sebagian lainnya berada di atas memperoleh oksigen. Nutrisi yang disediakan untuk tanaman akan diterima oleh akar secara terus menerus menggunakan pompa air yang ditempatkan pada penampung nutrisi yang disusun sedemikian rupa agar pengaliran menjadi efektif (Tellei, 2017).

Sistem NFT ini masa tanam menjadi lebih singkat sehingga bisa melakukan penanaman lebih banyak. Dengan bercocok tanam menggunakan sistem NFT, maka bisa diperoleh laba lebih besar karena dalam waktu satu waktu bisa panen hasil berkali-kali. Pemantauan aliran serta perawatan maupun kondisi nutrisi lebih mudah karena nutrisi ditempatkan dalam satu wadah sehingga tidak perlu mengecek berulang kali karena dengan sekali melihat bisa diketahui kondisi nutrisi secara keseluruhan

Sistem NFT juga bergantung pada listrik, beberapa alat memerlukan listrik yang stabil dan terus menyuplai agar sistem hidroponik yang telah dirancang tetap berjalan. Sistem ini juga rentan terhadap penyakit apabila beberapa tanaman yang terintegrasi dengan aliran nutrisi akan lebih mudah menyebarkan penyakit ke tanaman lain yang berada pada jalur tersebut. Kondisi semacam ini bisa menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.    Sistem Hidroponik Deep Flow Tehnique (DFT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sistem Deep Flow Tehnique (DFT) adalah salah satu sistem hidroponik dimana akar tanaman diletakan pada lapisan air dengan kedalaman berkisar antara 4-6 cm.

Hidroponik sistem DFT memerlukan pasokan listrik untuk mensirkulasikan air ke dalam talan-talang tersebut dengan menggunakan pompa dan untuk menghemat penggunaan listrik, kita dapat menggunkan timer (untuk mengatur waktu hidup dan mati pompa). Sebagai contoh pada pagi hari pompa hidup dan sore hari pompa mati, begitu seterusnya.


Kelebihan Hidroponik Sistem Deep Flow Technique (DFT)

Kelebihan dari teknik hidroponik sistem DFT ini adalah pada saat aliran arus listrik padam maka larutan nutrisi tetap tersedia untuk tanaman, karena pada sistem ini kedalam larutan nutrisinya mencapai kedalaman 6 cm. Jadi pada saat tidak ada aliran nutrisi maka masih ada larutan nutrisi hidroponik yang tersedia.

 

Sedangkan untuk kekurangannya adalah pada sistem DFT ini memerlukan larutan nutrisi yang lebih banyak dibandikan dengan sistem NFT (nutrient Film Technique).
Perkembangan tanaman yang dibudidayakan menggunakan Hidroponik Sistem Deep Flow Technique (DFT) dapat tumbuh dengan baik dan memiliki kualitas buah/sayuran yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional.

 

Jenis Tanaman pada Hidroponik Sistem Deep Flow Technique (DFT)

Beberapa tanaman yang sering ditanam secara hidroponik, adalah sayur-sayuran seperti bak choy, brokoli, sawi, kailan, bayam, kangkung, tomat, bawang, bahkan strowbery, dll

Prinsip kerja Hidroponik Sistem Deep Flow Technique (DFT)

Prinsip dasar Hidroponik Sistem Deep Flow Technique (DFT) adalah mensirkulasikan larutan nutrisi tanaman secara terus-menerus selama 24 jam pada rangkaian aliran tertutup. Larutan nutrisi tanaman di dalam tangki dipompa oleh pompa air menuju bak penanaman melalui jaringan irigasi pipa, kemudian larutan nutrisi tanaman di dalam bak penanaman dialirkan kembali menuju tangki.

 

4.      Sistem Sumbu (Wick System)

Sistem sumbu (Wick System) merupakan salah satu sistem yang paling sederhana dari semua sistem hidroponik karena tidak memiliki bagian yang bergerak sehingga tidak menggunakan pompa atau listrik. Sistem sumbu merupakan sistem pasif dalam hidroponik karena akar tidak bersentuhan langsung dengan air.Dinamakan sistem sumbu karena dalam pemberian asupan nutrisi melewati akar tanaman disalurkan dengan media atau bantuan berupa sumbu Beberapa bahan umum yang digunakan untuk sistem sumbu seperti,kain flanel, tali fibrosa, jenis propylene, sumbu obor tiki, tali rayon atau mop helai kepala, benang poliuretan dikepang, wol tebal, tali wol atau strip, tali nilon, tali kapas, stripe kain dari pakaian atau selimut tua.

 

 

 

 

 

 

 

 


Sistem sumbu kurang efektif untuk tanaman yang membutuhkan banyak air. Sistem sumbu cocok untuk pemula atau yang baru mencoba menggunakan sistem hidroponik.Beberapa media tanam yang paling umum digunakan untuk sistem sumbu ialah seperti coco coir, Vermiculite atau perlite. Alat yang dibutuhkan pun mudah hanya larutan nutrisi,kain flanel (bahan lain sebagai sumbu),aerator (opsional) dan media untuk menjaga kelembaban seperti sekam bakar,cocopeat,hidroton.

Kelebihan sistem sumbu:

1)    Biaya untuk mengumpulkan bahan yang diperlukan tergolong sangat murah.

2)    Bentuk yang sederhana dan pembuatannya yang mudah memungkinkan hidroponik sistem sumbu dapat dilakukan bagi pemula.

3)    Frekuensi penambahan nutrisi lebih jarang, dikarenakan menggunakan sumbu sebagai media penyalur nutrisi.

4)    Tidak tergantung listrik sehingga biaya relatif lebih murah.

5)    Mudah untuk dipindahkan.

Kekurangan sistem sumbu:

1)    Jumlah tanaman yang dihidroponikkan apabila berjumlah banyak maka akan sedikit sulit dalam mengontrol pH air.

2)    Hanya cocok untuk jenis tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Hal ini disebabkan oleh kemampuan kapiler sumbu dalam menyalurkan nutrisi bersifat terbatas.

 

Prinsip Kerja Sistem Sumbu (Wick System):

Sistem         wick    menggunakan          prinsip kapilaritas,     yaitu dengan menggunakan         sumbu            sebagai          penyambung atau jembatan pengalir air nutrisi dari wadah penampung air ke akar tanaman. Sumbu yang digunakan dalam system ini biasanya berupa kain flanel atau bahan lain yang dapat menyerap air.

Posting Komentar untuk "SISTEM HIDROPONIK"