KOPI

 Budidaya Tanaman Kopi


Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Luas areal tanaman kopi pada tahun 2017 mencapai 1.238.598 ha dengan produksi 717.962 ton.

Perkebunan kopi di Indonesia kepemilikannya didominasi oleh Perkebunan Rakyat (PR) yang luasnya mencapai 96,21% (1.191.646 ha) dari total areal kopi di Indonesia, sedangkan sisanya 1,85% (22.868 ha) merupakan Perkebunan Besar Negara (PBN) dan 1,95% (24.085 ha) Perkebunan Besar Swasta (PBS). Komposisi tersebut menunjukkan bahwa peranan petani kopi dalam keberhasilan usahatani cukup signifikan sehingga pemberdayaan sumberdaya petani perlu dilakukan.

Petani di Indonesia menanam tiga jenis kopi, yaitu Robusta, Arabika, dan Liberika. Kopi Robusta dan Arabika umumnya ditanam di tanah mineral dengan ketinggian tempat masing-masing 100–600m dpl dan di atas 1.000 m dpl, sedangkan kopi Liberika banyak ditanam pada lahan pasang surut bergambut dan tanah mineral dekat permukaan laut sampai ketinggian 900 m dpl. Kopi Robusta merupakan tanaman yang paling banyak diusahakan oleh petani di Indonesia, kemudian diikuti oleh kopi Arabika dengan luas masing-masing mencapai 896.205 (72.36%) dan 314.963 ha (25,36%). Kopi Robusta tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Urutan luas areal kopi Robusta adalah wilayah Sumatera (584.481 ha), Jawa (143.502 ha), Nusa Tenggara dan Bali (84.459 ha), Sulawesi (59.654 ha), Kalimantan (20.970 ha), dan Maluku serta Papua (3.139 ha). Kopi Arabika sebagian besar tersebar di wilayah Sumatera (190.446 ha), kemudian diikuti Sulawesi (56.266 ha), Jawa (51.361 ha), Nusa Tenggara dan Bali (33.122 ha) dan terendah terdapat di wilayah Maluku dan Papua (10.840 ha). Selama ini data statistik kopi Liberika dimasukkan ke dalam kopi Robusta

Penyebab dari rendahnya produktivitas kopi di Indonesia di antaranya: (1) bahan tanaman yang digunakan petani bukan klon/varietas unggul dan (2) petani belum sepenuhnya menerapkan teknologi budi daya sesuai anjuran. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan melalui penyebaran informasi tertulis tentang praktik budi daya kopi yang baik

Budidaya tanaman kopi

Pemilihan Lahan

Ketinggian tempat untuk kopi Robusta 100–600 m dpl, Arabika 1.000–2.000 m dpl, dan Liberika 0–900 m dpl. Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara untuk ketiga jenis kopi berbeda satu sama lainnya, yaitu masing-masing 21–24ºC, 15–25ºC, dan 21–30ºC. Curah hujan yang dibutuhkan kopi Robusta dan Arabika hampir sama, yaitu 1.250– 2.500 mm/tahun, sedangkan untuk kopi Liberika nilainya lebih tinggi, yaitu 1.250–3.500 mm/tahun. Bulan kering (curah hujan kurang dari 60 mm/bulan) yang dibutuhkan untuk kopi Robusta dan Liberika sama, yaitu sekitar 3 bulan/tahun, sedangkan untuk kopi Arabika 1–3 bulan/tahun.

Secara umum lahan (tanah) untuk tanaman kopi Robusta, Arabika, maupun Liberika mempunyai karakteristik/sifat hampir sama, yaitu :
  1. kemiringan tanah kurang dari 30%, 
  2. kedalaman tanah efektif lebih dari 100 cm, 
  3. tekstur tanah berlempung (loamy) dengan struktur tanah lapisan atas remah, 
  4. kadar bahan organik di atas 3,5% atau kadar karbon (C) di atas 2%, 
  5. nisbah C dan nitrogen (N) 10—12, (6) kapasitas tukar kation (KTK) di atas 15 me/100 g, 
  6. kejenuhan basa (KB) di atas 35%, 
  7. kemasaman (pH) tanah 5,5—6,5 dan (8) kadar unsur hara N, posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca) serta magnesium (Mg) cukup sampai tinggi.

Makin tinggi elevasi tempat tumbuh kopi Robusta di daerah Lampung, maka kadar kafein dan lemak cenderung semakin meningkat. Selanjutnya, proses pengolahan kopi secara basah menghasilkan mutu citarasa kopi Robusta Lampung lebih tinggi dibandingkan dengan pengolahan secara kering Ketinggian tempat tumbuh kopi Arabika berpengaruh terhadap nilai kandungan kimia serta mutu citarasanya. Kandungan protein, kafein, lemak, dan abu pada ketinggian 1.600 m dpl merupakan yang tertinggi, yaitu masing-masing 12,09%; 1,08%; 14,31%; dan 5,28%. Skor citarasa tertinggi juga diperoleh dari kopi Arabika yang ditanam pada ketinggian 1.600 m dpl, yang memiliki karakter citarasa spicy, strong fragrance dan chocolaty. Kopi Arabika Garut yang ditanam pada ketinggian tempat berbeda (1.200–1.600 m dpl) berpotensi untuk dikembangkan menjadi kopi spesialti Arabika karena memiliki nilai skor citarasa lebih besar atau sama dengan 80,00 (81,25–83,00) dan masuk dalam kriteria kopi spesialti.

Terdapat korelasi yang nyata antara ketinggian tempat dengan beberapa sifat kimia tanah dan mutu fisik biji kopi Arabika di dataran tinggi Garut. Semakin tinggi tempat maka semakin meningkat pula sifat kimia tanah seperti pH, C-organik, N-total, Na, dan KTK, tetapi sebaliknya untuk P2O5 total. Meningkatnya tinggi tempat dan beberapa sifat kimia tanah tersebut dapat meningkatkan pula mutu biji fisik kopi Arabika yang meliputi persentase biji normal dan berat 100 biji.

Kesesuaian Lahan

Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu. Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini (kesesuaian lahan aktual) atau setelah diadakan perbaikan (kesesuaian lahan potensial). Secara kuantitatif kriteria teknis kesesuaian lahan untuk kopi Arabika, Robusta, dan Liberika

Kelas kesesuaian lahan pada suatu wilayah ditentukan berdasarkan tipe penggunaan lahan:

  1. Kelas S1: sangat sesuai (highly suitable) Lahan dengan klasifikasi ini tidak mempunyai pembatas serius untuk menerapkan pengelolaan yang dibutuhkan atau hanya mempunyai pembatas tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas lahan serta tidak akan meningkatkan keperluan masukan yang telah biasa diberikan.
  2. Kelas S2: sesuai (suitable) Lahan mempunyai pembatas-pembatas agak serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Faktor pembatas yang ada akan mengurangi produktivitas lahan serta mengurangi tingkat keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan.
  3. Kelas S3: sesuai marginal (marginally suitable) Lahan mempunyai pembatas-pembatas serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Tingkat masukan melebihi kebutuhan yang diperlukan oleh lahan dengan tingkat kesesuaian S2, meskipun masih dalam batas-batas kebutuhan normal.
  4. Kelas N: tidak sesuai (not suitable) Lahan dengan faktor pembatas permanen sehingga mencegah segala kemungkinan pengembangan lahan untuk penggunaan tertentu. Faktor pembatas ini tidak dapat dikoreksi dengan tingkat masukan yang normal.
Pembukaan Lahan

Langkah awal dari pembukaan lahan adalah melakukan penebangan dan pembongkaran terhadap pohon, perdu, dan tunggul beserta perakarannya. Kayu dan serasah (sisa-sisa tanaman, perdu, dan tunggul), hasilnya ditumpuk pada satu tempat di pinggir kebun. Pembukaan lahan harus dilakukan tanpa adanya pembakaran (zero burning) dan penggunaan herbisida dilakukan secara terbatas bijaksana.

Manfaat pembukaan lahan tanpa dibakar antara lain: 
  1. melindungi humus dan mulsa yang telah terbentuk bertahun-tahun, 
  2. mempertahankan kelembapan tanah, 
  3. meningkatkan kandungan bahan organik, 
  4. mempertahankan kelestarian lingkungan, terutama tidak menyebabkan polusi udara, 
  5. menjaga kemasaman (pH) tanah dan mengurangi biaya pemeliharaan setelah penanaman.

PERSIAPAN TANAM

Pengajiran

Pengajiran bertujuan: 
(1) mengatur jarak tanam di lapangan, 
(2) mempermudah pembuatan lubang tanam, 
(3) membantu agar benih yang ditanam membentuk garis lurus sehingga mempermudah dalam pengelolaan dan pemeliharaan tanaman

Jarak Tanam
Jarak tanam untuk kopi Arabika bervariasi tergantung kepada tipenya.Jarak tanam kopi Arabika untuk tipe katai, agak katai, dan jangkung
Pada lahan miring, jarak tanam dalam teras untuk kopi Arabika tipe katai 2,00–2,25 m, sedangkan untuk tipe jangkung 2,50–2,75 m. Jarak tanam kopi Robusta pada lahan datar 2,5 m x 2,5 m atau 3,0 m x 2,0 m, sedangkan pada lahan miring 2,0 m x 2,5 m. Jarak tanam kopi Liberika 3,0 m x 3,0 m atau 4,0 m x 2,5 m.

Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam sebaiknya dilakukan 6 bulan sebelum tanam. Ukuran lubang tanam tergantung kepada tekstur dan struktur tanah, makin berat tanah maka ukuran lubang tanam makin besar. Ukuran lubang tanam yang baik adalah 60 cm x 60 cm. Pada bagian permukaan dan 40 cm x 40 cm pada bagian dasar dengan kedalaman 60 cm. Untuk teras kontur, lubang tanam dibuat di dekat sisi miring sebelah atas. Makin terjal kemiringan tanah, semakin dekat sisi miring sebelah atasnya. Tanah galian lapisan atas (top soil) dipisahkan dari tanah lapisan bawah (sub soil). Tanah lapisan atas di sebelah barat, sedangkan tanah lapisan bawah di sebelah timur agar tanah lapisan bawah dapat tersinari cahaya matahari dengan tujuan untuk mematikan mikroorganisme. Tanah bekas galian dibiarkan minimal selama 1 bulan. Tanah lapisan atas dapat dicampur dengan pupuk organik.

Pemanfaatan Lahan
Lahan kosong yang tersedia selama masa persiapan lahan, dapat dimanfaatkan dengan ditanami beberapa jenis tanaman semusim sebagai pre-cropping, seperti talas, ubi jalar, jagung, kacangkacangan, dan sayuran. Jenis tanaman disesuaikan dengan kebutuhan petani, peluang pasar, dan kondisi lingkungan setempat.

Pengendalian Erosi
Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh air atau angin ke tempat lain. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Kondisi ini menyebabkan tanah di perkebunan kopi menjadi terdegradasi (berkurang kesuburannya), terutama pada kebun yang mempunyai kemiringan lereng cukup tinggi (di atas 8%).

Upaya untuk mengatasi erosi dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Apabila kebun kopi mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 8%, perlu dibuat rorak.
2. Lereng lapangan lebih dari 8%, perlu dibuat teras bangku dan rorak. Teras bangku dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya sehingga terjadi suatu deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga.

Fungsi utama teras bangku adalah 
  • memperlambat aliran permukaan, 
  • menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak, 
  • meningkatkan laju infiltrasi, dan mempermudah pengolahan tanah.
3. Lahan yang mempunyai kemiringan lebih dari 45% sebaiknya tidak dipakai untuk budi daya tanaman kopi. Lahan tersebut sesuai untuk digunakan tanaman kayu-kayuan atau sebagai hutan cadangan/hutan lindung. Namun demikian, dalam kondisi tertentu areal yang curam (kemiringan lahan lebih dari 45%) dapat dimanfaatkan untuk penanaman kopi, dengan syarat harus dilengkapi teras individu.
Pembuatan Teras Bangku
Pembuatan teras bangku dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
  • Teras bangku dapat dibuat dengan interval vertikal 0,5–1 m.
  • Pembuatan teras dimulai dari lereng atas dan terus ke lereng bawah untuk menghindari kerusakan teras yang sedang dibuat oleh air aliran permukaan bila terjadi hujan.
  • Tanah bagian atas digali dan ditimbun ke bagian lereng bawah sehingga terbentuk bidang olah baru. Tampingan teras dibuat miring, membentuk sudut 200% (63º) dengan bidang horizontal. Kalau tanah stabil tampingan teras bisa dibuat lebih curam (sampai 300% atau 71º ).
4. Kemiringan bidang olah berkisar 0–3% mengarah ke saluran teras.
5. Guludan (bibir teras) dan bidang tampingan teras ditanami dengan tanaman berakar rapat, cepat tumbuh, dan menutup tanah dengan sempurna. Untuk petani yang memiliki ternak ruminansia dapat ditanami rumput pakan ternak. Seperti rumput bahia (Paspalum notatum), rumput bede (Brachiaria decumbens), rumput gajah (Penisetum purpureum) atau akar wangi (Vetiveria zizanioides) dan serai wangi. Guludan teras dapat juga ditanami dengan salah satu tanaman legum seperti gamal (Gliricidia sepium) dan lamtoro yang sekaligus berfungsi sebagai penaung tetap tanaman kopi. Pada tanah Latosol, teras bangku yang diperkuat dengan rumput bede dapat menurunkan erosi dari 1,2 ton/ha menjadi 0,4 ton/ha.
6. Sebagai kelengkapan teras, perlu dibuat saluran teras dengan ukuran lebar 15–25 cm, kedalaman 20–25 cm.
7. Untuk mengurangi erosi dan meningkatkan infiltrasi, rorak bisa dibuat di dalam saluran teras.

Pembuatan Teras Individu
Teras individu adalah teras yang dibuat secara terpisahpisah, satu teras untuk satu pohon (tanaman tahunan). Teras individu tidak perlu searah garis kontur, tetapi menurut arah yang paling cocok untuk penanaman tanaman (misalnya arah timur-barat untuk mendapatkan cahaya matahari maksimal).
Teknik pembuatan teras individu:
1. Bidang teras diratakan pada titik-titik tempat penanaman dengan luas sama atau lebih kecil dari proyeksi tajuk pohon, sesuai kondisi lapangan. Lubang tanam dibuat di bagian tengah teras.
2. Areal yang kosong ditanami di antara barisan tanaman dengan rumput/legum penutup tanah.

Pembuatan Rorak

Rorak adalah lubang atau penampung yang ditujukan untuk: (1) menampung dan meresapkan air aliran permukaan ke dalam tanah, (2) memperlambat laju aliran permukaan, (3) pengumpul sedimen yang memudahkan untuk mengembalikannya ke bidang olah dan (4) media penampung bahan organik, yang merupakan sumber hara bagi tanaman. Rorak dibuat setelah benih di tanam di lapangan, dan pada tanaman yang sudah produktif dibuat setiap tahun. Pembuatan rorak di lahan datar dilakukan pada jarak 40–60 cm dari batang tanaman kopi, dengan ukuran panjang 120 cm, lebar 40 cm, dan dalam 40 cm. Jarak rorak dari batang tanaman kopi dapat berubah sesuai dengan pertumbuhan tanaman. Pada lahan miring rorak dibuat memotong lereng, atau searah dengan terasan (sejajar garis kontur), dibuat pada bidang olah atau di saluran teras. Serasah kebun, hasil pangkasan ranting kopi dan penaung, hasil penyiangan gulma, kompos, serta pupuk kandang dapat dimasukkan ke dalam rorak untuk dijadikan pupuk organik.

Penanaman Tanaman Penaung

Tanaman kopi (Coffea sp.) merupakan tanaman C3, dengan ciri khas efisiensi fotosintesis rendah. Efisiensi fotosintesis yang rendah menyebabkan laju pertumbuhan tanaman kopi menjadi tidak optimal. Proses fotorespirasi terjadi pada saat intensitas cahaya matahari tinggi dan suhu di sekitar tanaman meningkat. Kondisi tersebut terjadi jika kopi ditanam tanpa diberi penaung. Oleh karena itu, agar tanaman kopi dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal, tanaman tersebut perlu diberi tanaman penaung.

Manfaat tanaman penaung bagi tanaman kopi antara lain untuk mengurangi intensitas cahaya matahari agar tidak terlalu panas, mengurangi perbedaan temperatur antara siang dan malam, menjaga iklim mikro agar lebih stabil, sumber bahan organik, penahan angin dan erosi, memperpanjang umur tanaman/masa produksi kopi (di atas 20 tahun), mengurangi kelebihan produksi (over bearing) dan mati cabang, serta meningkatkan kualitas kopi.

Ada 2 jenis tanaman penaung yang perlu dikelola dalam budi daya kopi, yaitu penaung sementara dan penaung tetap. Penaung sementara berfungsi menaungi tanaman kopi muda sampai penaung tetap berfungsi secara optimal sedangkan penaung tetap mempunyai peran menjaga stabilitas daya hasil tanaman kopi.

a. Penaung sementara Jenis tanaman penaung sementara yang banyak digunakan adalah Moghania macrophylla, Crotalaria sp., dan Tephrosia sp. Tanaman M. macrophylla sesuai digunakan di lahan yang berada pada ketinggian tempat kurang dari 700 m dpl, sedangkan untuk daerah dengan ketinggian tempat di atas 700 m dpl sebaiknya menggunakan Tephrosia sp. atau Crotalaria sp. Pada daerah endemik penyakit nematoda parasit disarankan menggunakan Crotalaria sp.
Manfaat dari tanaman penaung sementara antara lain:
1. Melindungi tanah dari erosi.
2. Meningkatkan kesuburan tanah melalui tambahan organik asal tanaman penutup tanah sementara.
3. Menekan pertumbuhan gulma. Tanaman penaung sementara ditanam minimal 1 tahun sebelum penanaman kopi, dengan cara ditanam dalam barisan pada selang jarak 2–4 m atau mengikuti kontur.

b. Penaung tetap

Tanaman penaung tetap diperlukan agar budi daya tanaman kopi berkelanjutan. Lahan pada pertanaman kopi tanpa penaung tetap cenderung cepat terdegradasi sehingga mengancam keberlanjutan budi daya tanaman kopi pada lahan tersebut. Tanaman penaung tetap yang dianjurkan, yaitu lamtoro (Leucaena spp.), gamal (Gliricidia sepium), dadap (Egthrina sp.) dan sengon (Paraserianthes falcataria). Namun di lapang petani menggunakan berbagai jenis tanaman penaung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Jenis tanaman penaung yang digunakan terdiri dari tanaman buah-buahan antara lain: alpukat (Persea americana), mangga (Mangifera indica), jambu biji (Psidium guajava), pisang (Musa paradisiaca), pepaya (Carica papaya), rambutan (Nephelium lappaceum), jengkol (Archidendron jiringa), nangka (Arthocarpus heterophyllus),durian (Durio zibethinus), cempedak (Arthocarpus integra), sukun (Arthocarpus sp.), petai (Parkia speciosa), markisa (Passiflora edulis) dan jeruk (Citrus sp.); tanaman perkebunan seperti karet (Havea brasiliensis), kayu manis (Cinamomum mercusii), cengkeh (Eugenia aromatica), kemiri (Alleurites moluccana), kakao (Theobroma cacao), kelapa (Cocos nucifera), pala (Myristica fragrans), dan melinjo (Gnetum gnemon); sampai tanaman penghasil kayu/tanaman hutan seperti pohon kertas (Gmelina arborea), kayu afrika (Myopsis eminii), mahoni (Swietenia mahogani), lada (Eucalyptus deglupta), suren (Toona sureni), jati (Tectona grandis), cempaka (Michelia champaca), rasamala (Altingia excelsa), pinus (Pinus merkusii), dan kasuari (Casuarina sp.)

Tanaman penaung glirisidia (gliricidia sepium) merupakan tanaman penaung paling baik untuk pertumbuhan kopi Arabika, di dataran menengah.Lamtoro yang tidak berbiji dapat diperbanyak dengan atau okulasi, ditanam dengan jarak 2 m x 2,5 m, setelah besar secara berangsur-angsur dijarangkan menjadi 4 m x 5 m.

Posting Komentar untuk "KOPI"